Alkisah Part 1

30 12 2009

Alkisah maka tersebutla seorang rakyat jelata yang tinggal berseorangan berbumbungkan danau usang di bawah pohon angsana. Timbul terbit si rakyat pemuda ini dikenal, disebut, dipanggil oranglah sebagai Megat Semalu. Akan namanya sebegitu rupa bukanlah berakarkan sifatnya yang pemalu tetapi akan gemarnya dirinya mencari dan menanam pohon semalu tiadalah dimana melainkan dihadapan danau usangnya.

Ingin dikisahkan juga Megat Semalu tidaklah bodoh sombong. Adanya terdetik dihati pemuda ini sambil mengusap dagu tempat bersemadinya rambut2 halus yang bakal bergelar janggut. Merenung ke arah pohon angsana, terlindunglah danau usang dari bahang mentari asbab teduh bayang-bayangnya. Tidak terkiralah besar bayang2 pohon itu memanjang ketika mentari condong mengecil waktu tegaknya raja siang di atas ubun-ubun.

Maka setelah butir-butir peluh menerpa, Megat Semau menyemai semalu yang dicarinya jauh dari capaian redup pohon angsana itu kiranya cukuplah cahaya untuk bertumbuhnya semalu2 itu. Disemainya jarang2 takut juga tersentuh antara satu sama lain, kuncup tidak kembanglah semalu yang pemalu.

Kerana minatnya, siramlah megat Semalu akan semaiannya dengan kasih sayang tanpa dihiraukan gelarannya yang lekat di mulut orang.

Alkisah terkumpullah awan2 hitam lalau menyelubungi jajahan tempat adanya Megat Semalu. Berterbanganlah segala pepohon kayu dedaunan ditiup angin ribut. Kukuh semalu tidak bertahan, bersentuhanlah ia satu dengan lain maka kuncuplah segalanya.

Tiadalah mahu Si Megat untuk bersemai semalu lagi akan seriknya dia angkara ribut dan tiadalah mahu dia dipanggil semalu lagi. Termenunglah Megat Semalu merenung semalu meliar di kejauhan. Didekati semalu2 itu disenja hari mahupun ketika terik mentari. Tidak ditanam lagi, merenung sudah mencukupi.

Purnama menjelang dan menghilang. Megat Semalu tetap dengan namanya dimulut kebanyakan sungguhpun tiada disemai semalu lagi. Tatkala hening subuh, sedang asyik Megat memikirkan  minatnya menyemai, mawar merah mengilau dipanah rembulan. Berlari Megat mendapatkannya. Diteleknya pohon mawar itu, disentuh, dihidunya. Terpikat hatinya.

Azam tegar tepacak dihati. Mawar merah akan ditanam dihalaman sendiri.

Bersusah payah Si Megat mencari benihnya. Duri mawar menghiris tidak dihirau, ditahan demi kesediaannya menanam, menjaga hanya sekuntum mawar. Akan dicurahkan sepenuh kasih sayang demi sepohon mawar itu.

Namun mawar berduri, layu akibat zat2 tanah yg dimakan semalu2 silam.

bersambung…

Advertisements

Actions

Information

3 responses

31 12 2009
Thoriq

pning sket sbb byk prkataan malu,huhu…

4 01 2010
gorygazelle

mane sambungannye pak??

5 01 2010
phaezs

2guuuuuu….haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: